H Aryanto Misel (KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI)

Irine Maharani

12 October 2017


PEMBUAT FORMULA ANTIAPI DARI KULIT SINGKONG, ARYANTO MISEL


Saat pemerintah pusing mencari solusi kebakaran hutan di Tanah Air, diam-diam sejak satu dekade lalu, Aryanto Misel (60) telah menemukan cara sederhana mengurangi bencana kemanusiaan itu.

Bermodalkan kulit singkong plus sentuhan inovasi, pemegang ijazah Sekolah Menengah Atas ini mencoba menjadi bagian kecil dari solusi masalah menahun tersebut.

Aryanto tiba-tiba mengambil gas portabel ketika menerima tamu, di kediamannya, di Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, awal Januari lalu. Papan berukuran 30 sentimeter (cm) x 5 cm juga digenggamnya. Belum ada penjelasan tentang itu.

Api super panas berwarna biru dari gas portable sontak ia semburkan ke papan yang ada di tangan kanannya. Para tamu semakin kaget.

Ajaib, papan berukuran 30 sentimeter (cm) x 5 cm itu tak terbakar. Aryanto lalu mengulanginya selama beberapa menit. Semburan api tanpa jarak itu sama sekali tak melumat papan.

Api tak hinggap, apalagi menembus papan. Hanya bekas hitam yang tersisa di permukaan papan. Saat disentuh, terasa hangat.

Aroma aneh tercium, seperti sebuah minyak pelumas kendaraan bermotor. “Ini Ko Hi HPA, minyak antiapi,” ucap Aryanto diikuti batuk.

Dalam bahasa Jepang, lanjutnya, Ko Hi dapat diartikan antirambat api. Adapun HPA akronim dari hasil penamaan yang diberikan Aryanto sendiri.

Suaranya masih serak saat ditemui. Itu “oleh-oleh” setelah diserang kepulan asap dari kebakaran hutan di Kalimantan Timur, November 2015 lalu.

Ketika itu, api setinggi dua meter berada sekitar 300 meter di hadapannya. “Ini saatnya membuktikan ramuan kulit singkong,” bisik Aryanto dalam hati.

Sekat bakar lalu dibuat. Ilalang, ranting pohon, dan rerumputan ditumpuk memanjang membentuk garis batas mengelilingi areal kebakaran. Namun, sekat bakar belum mampu menghalau si jago merah kala angin kencang.

Aryanto lalu menyemburkan cairan anti api yang ia buat sendiri di sekat bakar. Alhasil, hanya sedikit sekat bakar yang dilahap api. Kebakaran pun tak menjalar lebih luas.

Dijual ke perusahaan

Menakjubkan! Begitulah tanggapan beberapa orang dari PT Triputra Agro Persada yang mulai memanfaatkan penemuannya tersebut. “Saya juga kaget. Ternyata bisa,” ujar Aryanto.

Sebelumnya, Aryanto dipanggil untuk memaparkan penemuannya tersebut ke perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit dan karet berskala nasional itu. Perusahaan itu mendapatkan info penemuan Aryanto dari internet.

Ketika itu, ia bersaing dengan sebuah perusahaan yang juga menawarkan cairan antiapi.
“Tapi, penemuan saya yang dipilih karena lebih ekonomis,” ucapnya.

Untuk per liter, ia memasarkan Rp 10.000. Setiap liter dapat mengamankan wilayah 10 meter persegi dari terjangan api. Dalam setahun, ia melepas sekitar 7 ton cairan antiapi itu.

Ia pun membuka pekerjaan baru bagi beberapa tetangganya untuk mengolah kulit singkong. Limbah yang diambil dari sekitar Cirebon itu akhirnya berbuah manfaat.

Selain digunakan memadamkan api saat kebakaran hutan, penemuannya juga dipakai untuk mencegah kebakaran rumah. Produk itu telah dikirim ke luar Cirebon, seperti Jakarta.

Cairan antiapi itu mampu meresap 1 sentimeter ke benda yang dioleskan sehingga api tak merambat.

Pembuatan cairan antiapi

Cairan antiapi itu dibuat dari kulit singkong yang digiling sampai halus. Terdapat zat potasium dalam kulit singkong yang dapat menstabilkan berbagai senyawa, seperti sitrat yang mengakibatkan reaksi kimia sehingga api mati.

“Saya hanya belajar dari buku tentang Kimia dan Fisika. Itu kesukaan saya. Dan, terus mencoba mempraktikkannya,” ujarnya.

Resep penemuannya bahkan telah dibeli sebuah perusahaan di Jepang dengan harga sekitar Rp 700 juta. Saat itu, ia membutuhkan uang untuk membuat karya lainnya sehingga terpaksa menjual karyanya.

Aryanto tak mengklaim penemuannya pada awal 2000an itu adalah yang pertama dan satu-satunya. Saat ini, ia telah mengajukan karyanya itu untuk diuji di PT Sucofindo.

Dalam catatan Kompas, peneliti dalam negeri Randall Hart juga menemukan kulit singkong pemadam api. Bahkan, ia membuat perusahaan yang memproduksi cairan kimia berbahan kulit singkong yang anti api.

Karya lain

Penemuan kulit singkong antiapi hanyalah secuil dari sekitar 30 karyanya. Mulai dari minyak angina aroma terapi, karet ajaib pencegah tabung gas elpiji meledak, hingga bahan bakar minyak dari bahan nabati merupakan sederet karyanya.

Kesemuanya berada di bawah bendera usaha AKASHU Inter, akronim dari Allah Kuasa Atas Segala Hasil Usaha, Insya Allah Niat Tercapai.

Ia tak ingin menggali untung sebanyak-banyaknya. Itu terbukti dari harga karyanya yang murah, mulai di bawah Rp 10.000, dan tidak punya pola pemasaran produk.

“Mau memasarkan di media sosial, saya enggak tahu caranya,” ujarnya terkekeh.

Karya yang dirintis sejak 1987 itu memiliki satu kesamaan: semuanya berasal dari bahan baku organik. “Saya melawan anorganik. Itu berbahaya,” ucapnya.

Bahan bakar untuk mesin diesel temuannya, misalnya, berasal dari minyak nabati (80 persen) dan selebihnya formula kimia. Penggunaan bahan bakar itu lebih hemat 40 persen dibandingkan solar sehingga bermanfaat bagi nelayan.

“Dulu ada pemerintah daerah (tanpa menyebutkan nama kabupatennya) yang menggunakan temuan itu. Tapi, ditangkap polisi karena temuan itu disalahgunakan dalam APBD dan dikorupsi,” katanya.

Baginya, karyanya tak perlu mendapat pengakuan dari siapa pun, tapi yang terpenting bermanfaat secara langsung bagi masyarakat. Yang terbaru, ia mencoba membuat bola lampu tanpa listrik.

“Itu nanti tidak dijual. Tapi, mau alih teknologi kepada masyarakat di Papua yang tak punya listrik,” ujarnya.

Temuannya tersebut berada di rumahnya yang dijadikan laboratorium. Selama berkarya, ia pernah memaparkan karyanya di sebuah stasiun televisi swasta, hingga dipanggil oleh Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Tetangga bersemangat

Muhammad Ridwan, tetangga Aryanto, bersemangat menjadi konsumen pertama saat karya bapak dua anak itu lahir. “Kami para tetangga merasa tertolong,” ucapnya.

Di usianya yang lebih dari setengah abad, Aryanto belum ingin pensiun berkarya. Dari sudut Desa Lemahabang, Cirebon, karya sederhana nan bermanfaat itu lahir, tak pernah mati.


Sumber : kompas.com


comments
no comment

LAINNYA