SHARE :
Hari Anak Sedunia: Sepotong Kisah Perjuangan Gadis 17 Tahun untuk Kesetaraan Pendidikan Bagi Perempuan

Retno Wulandari

20 November 2017


HARI ANAK SEDUNIA: SEPOTONG KISAH PERJUANGAN GADIS 17 TAHUN UNTUK KESETARAAN PENDIDIKAN BAGI PEREMPUAN


Oleh: Khyati Chauhan (UNICEF)

Sepupu saya berada di kelas 11 saat dia pindah dari sebuah desa khas India ke tempat saya di New Delhi. Kami adalah kutub yang berlawanan namun hubungan kami paling dekat. Dia adalah seorang introvert yang pemalu; Saya banyak bicara dan lincah. Dia sangat patuh mengikuti tuntutan ayahnya dan saya agak terang-terangan memberontak terhadap peraturan ayah saya. Ketenangannya membuat dia menyusuri jalan depresi yang lebih gelap, mungkin karena dia tidak mampu menghadapi kehidupan kota yang penuh tekanan. Ditambah lagi, ada ancaman konstan berupa pernikahan; pilihan yang akan dibuat untuknya dan dia harus mematuhinya.

Perjuangannya adalah sebuah film yang selalu saya tonton. Film yang membuat saya merenungkan situasi ratusan gadis di desa saya: harapan mereka, pendidikan mereka, dan jika mereka secara mental dipaksa untuk menikah daripada belajar. Apakah mereka dijauhkan dari kesempatan untuk belajar? Pemikiran ini memancing saya untuk memberikan suara pada pendapat dan perasaan gadis-gadis ini dan membantu mereka melihat masa depan yang melibatkan pendidikan dan bukan pernikahan.

Setelah menghabiskan masa kecil saya di desa yang sama dengan mereka, saya bertekad untuk melihat dampak pertama dari pekerjaan saya di sana. Setiap kali saya berkunjung, saya melihat bahwa bahkan dengan perubahan zaman, desa saya dan bagian lain dari negara saya masih berkutat dalam pandangan bahwa anak perempuan adalah hutang harus dilunasi. Sebuah visi yang menolak untuk melihat potensi anak perempuan.

Nenek saya menikah pada usia 16 dan kemudian memiliki anak, yakni ibu saya. Ibu saya terpaksa memilih pendidikan yang lebih rendah, karena pendidikan adiknya lebih penting daripada pendidikannya. Semua pengalaman orang-orang di sekitar saya memberi saya bahan bakar untuk terus berlanjut dan bekerja lebih keras. Sejarah ini mendorong saya untuk keluar dari stigma dan mencoba mempengaruhi gadis lain untuk melakukan hal yang sama. Saya ingin melihat setiap ayah mendesak putrinya untuk pergi ke sekolah dan mendapatkan kemerdekaannya sebelum dia memilih pasangan hidup.

Pendidikan, saya rasa, adalah elemen terpenting dalam masyarakat kita—pendidikan untuk anak perempuan harus sama dengan anak laki-laki. Belajar adalah suar yang mengajarkan tidak hanya pengetahuan, tapi juga rasa individualitas yang penting. Alasan ini membimbing keyakinan saya untuk melihat setiap gadis yang saya temui, baik di desa saya atau di tempat lain, membawa suar ini dan mendapatkan kekuatan yang berasal dari pendidikan.

Seorang anak perempuan mengerjakan soal di papan tulis di kelas matematika di Government Primary School, Karnpura, India. (UNICEF)_1

Khyati Chauhan adalah seorang siswa 17 tahun Ahlcon International School. Meskipun dia tinggal di kota, hatinya tinggal di desanya, Baghpat, di mana dia menghabiskan masa kecilnya dan masih sering berkunjung ke sana.


Sumber : UNICEF.ORG

SHARE : LINE

comments
no comment

LAINNYA